Mengulik Romantisme dan Persahabatan Gusti
Penulis : Kata Kokoh
Penerbit : Pastel Books
Terbitan : Cetakan Pertama,
2019
Halaman : 352 Halaman
ISBN :
978-602-6716-46-0
Paris Van Java,
Bandung dan segala sisi romantismenya. Bukan hanya Yogyakarta yang memiliki
banyak kisah romantis, Bandung seakan hadir dengan kacantikan kotanya. Semua
kisah yang terjadi, tempat-tempat yang mendukung bagaimana sebuah kisah cinta
menjadi alur yang sangat indah dan penuh makna. Kata Kokoh kembali dengan novel
terbarunya yang berjudul Gustira. Rupaanya penulis satu ini memang sangat
sukses dengan kisah-kisah remaja yang ia tulis. Mulai dari Senior Series yang
menjadi best seller, novel ini rupanya akan mengikuti jejak
tiga novel sebelumnya.
“Semua orang mah pasti
suka sama yang apa adanya, tapi kenyataanya teh yang apa
adanya akan tetap kalah sama yang sempurna.” –Hal. 214
Gustira, Gusti dan
Ira. Gusti sendiri hanya lelaki biasanya yang tidak terlalu tampan. Namun
beberapa temannya percaya bahwa Gusti itu karismatik dan menyenangkan. Meski
hal itu tidak langsung dipercayai oleh Ira. Seorang siswi yang memiliki nasih
sial karena selalu diganggu oleh Gusti. Semuanya berawal dari Ira yang harus
menggantikan Gusti untuk bertemu dengan Mahesa dan Gusti. Dari sana,
hari-harinya berubah 180 derajat. Gusti selalu berada di sekitarnya dan
membuatnya jengkel. Meski begitu, anehnya Ira tidak benar-benar merasa
terganggu dan tidak berusaha menjauhi Gusti.
Lelaki yang humoris
dan konyol. Paket lengkap yang membuat teman-temannya terhibur dengan sikap
Gusti. Selalu ada saja sikap Gusti yang membuat sekitarnya terhibur. Aneh,
itulah penilaian dari Ira. Meski lambat laun, Ira mula terbiasa dengan sifat
tersebut.
“Bahwa rasa tidak
suka, bukan alasan untuk kita membenci seseorang atau sesuatu dalam hidup.
Namun, untuk membuat kita mengerti bahwa ada sudut lain dalam kehidupan
layaknya utara dengan selatan, timur dan barat.” – Hal. 314
Sama halnya menurut
banyak orang, benci dan cinta hanya dua sisi mata logam. Tidak ada yang
membedakannya kecuali sisi yang berlawanan. Rasa yang Ira miliki perlahanan
mulai merasa tak menentu. Bagaimana perasaannya yang hampa saat Gusti menjauh
darinya dengan alasan yang Ira tak ketahui. Bagaimana Ira yang selalu bisa
merasa takjub saat melihat sisi-sisi Gusti yang lain.
Gusti yang selalu
ingin menjadi yang terbaik untuk Ira, menjaga perempaun yang ia cintai dengan
caranya sendiri. Meski sebenarnya, setiap cerita selalu memiliki endingnya sendiri.
Tak ada orang yang bisa menetukan akhir dari kisah tersebut selain Tuhan dan
penulisnya sendiri,
Humor yang benar-benar
renyah. Karakter Gusti dalam novel ini benar-benar sangat kuat. Bagaimana
penulis menyediakan alur yang mampu membuat pembaca ikut masuk ke dalam cerita.
Kadang, pembaca akan menjadi Ira yang tersipu setiap diganggu Gusti. Di
beberapa kesempatan, pembaca juga bisa menjadi Gusti dengan tingkah konyolnya.
Bahkan Gusti hampir sama seperti Dilan, tapi dalam versi Kata Kokoh, bukan Pidi
Baiq.
Dari novel Gustira
ini, banyak hal yang dapat kita petik sebagai pesan dan amanat yang memang
sengaja penulis sisipkan dari alur yang sudah tersusun dengan sedemikin rupa.
Tentang kesederhanaan yang diajarkan oleh Gusti. Meskipun Gusti adalah anak
orang kaya, ia tidak pernah sombong dan menampilkan kekayaannya. Malah Gusti
tampil seperti orang kebanyakan, sederhana.
Ira yang selalu tenang
dalam menghadapi masalah. Dan bagaimana kuatnya sebuah hubungan persahabatan
antara semua tokoh di sana. Di mana satu masalah, mereka pikul bersama dan
saling menguatkan.
Gustira memang sangat
cocok untuk remaja yang sekarang pastinya sudah mulai mengenal cinta
dan sahabat.
